image

Mat 21:12
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati

Saat menjelang pemilihan presiden dan wakilnya di tahun ini (2014), mimbar salah satu gereja dipakai untuk mendoakan dan “memaksa Tuhan” menjadikan salah satu calon sebagai presiden.  Beberapahari yang lalu, di kompas.com, diberitakan, dan ada kutipan perkataan Basuki Cahya Purnama ketika menanggapi masalah dirinya yang dicekal menjadi gubernur DKI. Kutipan perkataan A Hok, demikian,
“Mimbar itu seharusnya digunakan untuk mengajarkan yang baik, mengajarkan bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan. Akan tetapi, sekarang ada beberapa oknum yang menggunakan mimbar untuk dipakai politik dan cuma dipakai untuk ngatain Plt Gubernur sebagai seorang kafir,” kata Basuki di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (29/10/2014).

Mimbar dalam rumah ibadah, baik Kristen maupun Islam jelas-jelas ada yang menyerukan masalah politik bahkan mendeskriditkan orang lain untuk kepentingan politis.  Setahu saya, mimbar adalah simbol dan pusat pengajaran yang bertanggung jawab.  Orang yang berdiri di mimbar haruslah mereka yang sungguh-sungguh mengerti fungsi mimbar dan kekudusan Sang Khalik. Maksud saya, mimbar tidak boleh dipakai untuk mencibir, menghina dan untuk kepentingan politis.

Berangkat dari kisah Yesus, Ia begitu marahnya ketika mendapatkan para pedagang berjualan di halaman Bait Allah.  Saya membaca ini dan menjadi takut, bahwa halaman Bait Allah saja begitu sucinya, apalagi dalam Bait Allah dan dipusatnya yang adalah MImbar.  Masalah ini sangat serius, karena rumah ibadat mestinya untuk hal-hal religius.  Ketika ada kepentingan kelompok di dalamnya maka masalah spritual adalah masalah tergantung oknum, bukan lagi masalah kebenaran.  Ketika gereja menjadi milik pengusaha maka gereja itu penuh kepentingan bisnis, ketika gereja menjadi milik penguasa maka gereja penuh kepentingan kekuasaan.  Gereja harusnya menjadi rumah doa, tempat di mana manusia “terprovokasi” dalam kebenaran bukan politik, gereja tempat melihat Allah, bukan tempat nama Allah dipakai untuk kepentingan manusia.

Menurut bacaan kita, sampai pada waktunya, Tuhan sendiri yang membongkar dan mengusir orang-orang tercela seperti itu dari hadapan-Nya.  Tinggal sedikit waktu lagi!