image

Mazmur 1:1-3

Menarik banget, bagian ini dibuka dengan kata “berbahagia”.  Berbahagia adalah sisi kehidupan yang paling dicari manusia.  Berbahagia adalah sebuah rasa dari hati yang berbunga-bunga, dan orang yang berbahagia dikatakan sebagai orang yang beruntung.

Ketika dunia mendefinisikan arti bahagia itu dengan berbagai versi, seperti, bahagia adalah kekayaan, status dan kepintaran, pemazmur justru memberikan pandangan yang berbeda, bahwa bahagia adalah,

1. Tidak berjalan menurut nasihat orang fasik.  Salah satu nasihat orang fasik dalam Alkitab bisa dilihat pada kitab Ayub 2:9- “Maka berkatalah isterinya kepadanya: ‘Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!’”.  Dalam konteks Ayub, mereka sedang mengalami penderitaan, Ayub berusaha berjuang dalam iman, namun sang istri justru memberikan nasehat yang menjatuhkan.  Dalam keseharian kita, saya yakin bahwa banyak nasehat fasik pun yang kita temukan, contohnya, “jangan bergaul dengan dia, ntar loe jadi terikat karena melayani di gereja, kagak bebas lo”. Atau, “papa dan mamamu lebih sayang adikmu, liat aja, adikmu di berikan mobil, kamu kagak”.  Hati-hati dengan orang fasik.

2. Tidak berdiri di jalan orang berdosa.  Saya pikir ini udah jelas banget.  Tingkah laku orang berdosa kayak apa banyak contohnya.

3. Tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.  Apa maksud kalimat dalam kumpulan pencemooh (di tempat duduk pencemooh)? Saat kita menyelidiki Kitab Suci mengenai hal ini, kita mengerti bahwa kata ‘pencemooh’ bukan hanya menunjuk kepada pengejek yang membuat segala jenis pernyataan yang meremehkan tentang orang-orang. Tetapi, pencemooh adalah seseorang yang berjalan (hidup) dengan hikmat duniawi, yang muncul dari suatu perspektif yang berpusat pada diri sendiri dan mengacu pada diri sendiri. Wow, ini adalah orang-orang yang punya selera sok alias sombong, menjelekkan orang lain dan menganggap diri lebih penting dan baik.

4. Menyukai dan merenungkan Taurat Tuhan.  Dikatakan bahwa siang malam merenungkan Taurat.  Tentu bukan berarti duduk terus sambil tutup mata dan merenungkan.  Namun, seluruh hidupnya tunduk dan taat pada hukum Allah.  Seringkali orang melihat Taurat itu sebagai sebuah beban, padahal dalam Yesus, Taurat bukan lagi menjadi “hukum” melainkan anugerah. Anugerah yang menertibkan hidup seperti rumah memiliki pagar.  Dan pagar itu memberikan batas jelas dan kenyamanan serta keamanan.  Pemazmur katakan, orang yang taat Taurat itu seperti pohon yang tumbuh subur, karena ditanam di tepi aliran air.  Wow, Yesus katakan Ia adalah air kehidupan.  Air memberikan kelegaan dan nuansa baru serta kesegaran baru setiap hari.

So? Mari berjalan bersama Yesus, berdiri dalam Yesus, duduk di pangkuan-Nya dan menyukai-Nya serta merenungkan Firman-Nya.  Sederhana kan utk mendapatkan kebahagiaan?

Thank You Mr.Daud atas perenunganmu dalam kitab puisi ini.